Wednesday, April 04, 2007

Halaman Baru Kami

Untuk Semua Kawan

Silakan Mampir di Halaman Baru kami di
http://www.matanesia.com
semoga berkenan


mamuk@matanesia.com

Tuesday, January 23, 2007

SRI




Satu goresan alis lagi, selesailah riasannya. Selendang merah bermotif kembang menggantung di pundak, rangkaian melati melingkar di atas kondenya, dan perhiasan berjejal di lengannya. Adalah Sri ( 21 ), waranggono atau sinder baru saja selesai dengan riasannya.

Sri tidak sedang manggung di desanya malam itu, meski tawaran manggung untuk perayaan bersih desa atau hajatan banyak datang. Malam itu Sri ditemani Lastri kerabatnya menyiapkan pakaian dan alat-alat rias di ruang ganti gedung serbaguna di kota Bojonegoro.

Sejak sore Sri meninggalkan desanya , Temayang, sekitar 30 km menuju kota Bojonegoro mengadu gemulai tarian dan lengkingan suaranya dalam pemilihan Waranggono Tayub Favorit wilayah Bojonegoro. Puluhan peserta lainnya datang dari Ngasem, Bubulan, Dander, Sukosewu, Kanor dan Bojonegoro. Di atas panggung, matanya kosong, nyaris tanpa pandangan yang tegas, meski dari bibirnya lengkingan tembang Jawa lembut terdengar.

Bagi Sri, barangkali bukan kemenangan dan ketenaran yang dia impikan, karena Sri adalah “artis” di desanya sendiri. Tanpa embel-embel juarapun, tawaran menari dan nyinden selalu datang, apalagi di musim orang kawin.
Malam itu kota Bojonegoro terasa dingin dan berangin. Usai malam pemilihan Waranggono, Sri pulang ke desanya, kembali menemani anak perempuannya, buah dari pernikahan muda yang kandas.

Thursday, January 04, 2007

Unsur Visual Pada Tulisan

Secara umum konten media massa, jurnal atau blog akan lebih menarik dengan adanya unsur visual seperti grafis, gambar atau foto. Ini yang saya sebut sebagai kesadaran visual, baik oleh media mainstream maupun blog. Meski banyak juga yang punya alasan untuk tidak memasang gambar sama sekali di blog atau medianya.



Unsur visual (dalam hal ini foto) bukan sekedar bahan ilustrasi tulisan, namun foto adalah jembatan bagi pembaca untuk memahami peristiwa atau cerita yang disampaikan penulis. Bisa dibayangkan jika tulisan tentang makanan disajikan tanpa foto. Begitu juga dengan laporan peristiwa tanpa foto yang hanya membuat pembaca berimajinasi membayangkan peristiwa yang terjadi. Maka penggambaran lewat kata-kata rasanya kurang cukup membuat pembaca tertarik dan kemudian mengerti maksud tulisan. "Sebuah peristiwa visual layaknya disampaikan dengan visual juga. Dan tulisan, atau keterangan foto tidak perlu berpanjang-panjang", tutur Oscar Motuloh,direktur eksekutif Galeri Fotojurnalistik Antara, dalam sebuah diskusi.

Unsur visual menjadi terasa penting bukan saja untuk membangun estetika media. Orang makin sibuk dengan aktivitasnya, maka berita pendek dengan visual yang baik cukup membuat pembaca yang sibuk memperoleh informasi yang diinginkan.

Memang tidak semua peristiwa atau cerita bisa dijembatani oleh foto. Maka infografis (seperti tabel, peta dll) juga bisa dipakai untuk menegaskan maksud tulisan.
Jika ada pameo yang mengatakan “foto berbicara seribu bahasa”, ini bisa dipahami sebagai penterjemahan bebas pemirsa terhadap foto. Bukan berarti sebingkai foto bisa menjelaskan segala-galanya. Pemirsa dengan latar belakang visual, pendidikan dan ideologi yang berbeda punya bermacam pemahaman yang lain pula. Maka, disinilah tulisan, caption atau keterangan foto berperan memperjelas maksud foto agar tidak bias dipahami pemirsa.

Kembali ke blog, rasanya masih banyak pengelola blog yang mungkin lupa, malas, atau sengaja tidak menyebutkan sumber foto atau gambar. Tidak jelas alasan mana yang sering muncul. Yang pasti, bukan hal yang sulit sebenarnya untuk sekedar mencantumkan sumber foto, meski foto tersebut diperoleh secara gratis atau beli. Kecuali sumber foto milik sendiri, rasanya bebas dan santai saja tidak mecantumkan nama kita pada foto.

Jika kita dengan sadar dan suka rela memasang banner “jangan asal copy paste”, maka perlu juga diingat untuk “jangan lupa juga menyebut sumber foto”, karena foto juga karya cipta. Foto pula yang membuat blog kita “lebih terbaca” oleh pemirsa.