http://www.matanesia.com
semoga berkenan
mamuk@matanesia.com
Secara umum konten media massa, jurnal atau blog akan lebih menarik dengan adanya unsur visual seperti grafis, gambar atau foto. Ini yang saya sebut sebagai kesadaran visual, baik oleh media mainstream maupun blog. Meski banyak juga yang punya alasan untuk tidak memasang gambar sama sekali di blog atau medianya.
Unsur visual (dalam hal ini foto) bukan sekedar bahan ilustrasi tulisan, namun foto adalah jembatan bagi pembaca untuk memahami peristiwa atau cerita yang disampaikan penulis. Bisa dibayangkan jika tulisan tentang makanan disajikan tanpa foto. Begitu juga dengan laporan peristiwa tanpa foto yang hanya membuat pembaca berimajinasi membayangkan peristiwa yang terjadi. Maka penggambaran lewat kata-kata rasanya kurang cukup membuat pembaca tertarik dan kemudian mengerti maksud tulisan. "Sebuah peristiwa visual layaknya disampaikan dengan visual juga. Dan tulisan, atau keterangan foto tidak perlu berpanjang-panjang", tutur Oscar Motuloh,direktur eksekutif Galeri Fotojurnalistik Antara, dalam sebuah diskusi.
Unsur visual menjadi terasa penting bukan saja untuk membangun estetika media. Orang makin sibuk dengan aktivitasnya, maka berita pendek dengan visual yang baik cukup membuat pembaca yang sibuk memperoleh informasi yang diinginkan.
Memang tidak semua peristiwa atau cerita bisa dijembatani oleh foto. Maka infografis (seperti tabel, peta dll) juga bisa dipakai untuk menegaskan maksud tulisan.
Jika ada pameo yang mengatakan “foto berbicara seribu bahasa”, ini bisa dipahami sebagai penterjemahan bebas pemirsa terhadap foto. Bukan berarti sebingkai foto bisa menjelaskan segala-galanya. Pemirsa dengan latar belakang visual, pendidikan dan ideologi yang berbeda punya bermacam pemahaman yang lain pula. Maka, disinilah tulisan, caption atau keterangan foto berperan memperjelas maksud foto agar tidak bias dipahami pemirsa.
Kembali ke blog, rasanya masih banyak pengelola blog yang mungkin lupa, malas, atau sengaja tidak menyebutkan sumber foto atau gambar. Tidak jelas alasan mana yang sering muncul. Yang pasti, bukan hal yang sulit sebenarnya untuk sekedar mencantumkan sumber foto, meski foto tersebut diperoleh secara gratis atau beli. Kecuali sumber foto milik sendiri, rasanya bebas dan santai saja tidak mecantumkan nama kita pada foto.
Jika kita dengan sadar dan suka rela memasang banner “jangan asal copy paste”, maka perlu juga diingat untuk “jangan lupa juga menyebut sumber foto”, karena foto juga karya cipta. Foto pula yang membuat blog kita “lebih terbaca” oleh pemirsa.